BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 12 Maret 2014

Eren Jaeger (Shingeki no Kyojin) cosplay



Annami as Eren Jaeger
Takeo as Rivaille
photo by Asakura Yuki



Annami as Eren Jaeger
photo by Juan Putradi



\ Annami as Eren Jaeger
Eru as Mikasa Ackerman
photo by Nickcorner



Annami as Eren Jaeger
Eru as Mikasa Ackerman
photo by Nickcorner



Annami as Eren Jaeger
photo by asakura yuki



Annami as Eren Jaeger
Takeo as Levi/ Rivaille
photo by 7hope photography



Annami as Eren Jaeger
photo by Juan Putradi



Annami as Eren Jaeger
photo by Juan Putradi

Rei Miyamoto (High School of the Dead) cosplay by Annami



Annami as Rei Miyamoto
photo by Asakura Yuki



Annami as Rei Miyamoto
photo by Tetuko

Sabtu, 22 Februari 2014

Snow Miku 2012 cosplay by Annami



Annami as Snow miku 2012
photo by tetuko



Annami as Snow miku 2012
photo by tetuko



Annami as Snow miku 2012
photo by tetuko

Minggu, 08 Desember 2013

Araragi Karen and Araragi Koyomi Toothbrush cosplay By Annami


Annami as Araragi Karen
Photo by ID photography

Annami as Araragi Karen
Takeo as Araragi Koyomi
Photo by ID photography

Annami as Araragi Karen
Takeo as Araragi Koyomi
Photo by ID photography

Takeo as Araragi Koyomi
Photo by ID photography

Annami as Araragi Karen
Takeo as Araragi Koyomi
Photo by ID photography

Takeo as Araragi Koyomi
Photo by Adam


Annami as Araragi Karen
Photo by Adam

Araragi Karen cosplay by Annami


Annami as Karen Araragi
Photo by Hide Photografi


Annami as Karen Araragi
Photo by That Pentax Guy


Annami as Karen Araragi
Photo by ID photography


Annami as Karen Araragi
Takeo as Koyomi Araragi
Photo by ID Photography


Annami as Karen Araragi
Takeo as Koyomi Araragi
Photo by ID Photography


Annami as Karen Araragi
Takeo as Koyomi Araragi
Photo by ID Photography


Annami as Karen Araragi
Takeo as Koyomi Araragi
Photo by That Pentax Guy


Annami as Karen Araragi
Takeo as Koyomi Araragi
Photo by That Pentax Guy

Rabu, 27 November 2013

Review skripsi: ANALISIS PENERIMAAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN (SIPUS) TERPADU VERSI 3 DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS GADJAH MADA (UGM)

LATAR BELAKANG

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan terhadap “SIPUS Terpadu” berdasarkan teori Technology Acceptance Model (TAM), yang dilakukan di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Dalam studi ini, penulis menggunakan tiga variabel sebagaimana yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, Davis dan Oktavianti. Variabel tersebut adalah Perceived Usefulness (PU) and Perceived Ease of Use (PEOU) sebagai variabel mandiri sedangkan Acceptance of “SIPUS Terpadu” (ACIT) sebagai variabel terikat. Sebagai gambaran singkat, penelitian ini menunjukkan bahwa kedua vartiabel mandiri tersebut mempengaruhi variable terikat dengan nilai 63,8% sedangkan sisanya merupakan pengaruh dari faktor lain.
Tingkatan Sistem Informasi
Tingkatan system informasi terdiri dari: 1. Sistem pemrosesan transaksi atau Transaction Processing Systems (TPS) merupakan bentuk perkembangan dari kantor elektronik, dimana sebagian dari pekerjaan rutin diotomatisasi termasuk untuk pemrosesan transaksi.
2. Sistem informasi manajemen disini adalah sebuah kelengkapan pengelolaan dari proses-proses yang menyediakan informasi untuk manajer guna mendukung operasi-operasi pembuatan keputusan dalam organisasi.
3. Sistem pendukung keputusan (SPK) merupakan peningkatan dari SIM dengan penyediaan prosedur-prosedur khusus dan pemodelan yang unik yang akan membantu manajer dalam memperoleh alternative-alternatif keputusan.
4. Sistem Informasi E-Business dibangun karena ada kebutuhan untuk menjawab tantangan pengintegrasian data dan informasi dari proses bisnis berbasis internet atau jaringan global.

ANALISIS METODE
SIPUS versi 3 merupakan program aplikasi pendukung sistem informasi perpustakaan yang dibangun oleh PT. Gamatechno atas permintaan dari UPU Perpustakaan UGM untuk kebutuhan sistem informasi di lingkungan UGM. SIPUS versi 3 merupakan program pengembangan dari versi sebelumnya (versi 2) sebagai bentuk penyempurnaan. Menurut buku manual yang diterbitkan oleh PT. Gamatechno, SIPUS Terpadu versi 3 (tiga) ini terdiri dari (1) Sistem aplikasi desktop dengan basis client-server yang berfungsi untuk otomasi pengolahan data-data pustaka dan pencatatan aktifitas perpustakaan (2) Sistem katalog (Online Public Access Catalog- OPAC) induk terpadu berbasis web.
Program aplikasi SIPUS versi 3 menyediakan beberapa fitur atau fasilitas untuk sistem informasi (manajemen) perpustakaan seperti Sistem, Anggota, Sirkulasi, Koleksi, Laporan, Statistik, dan Setting. Sedangkan fitur OPAC terpisah dari interface (antarmuka) program aplikasi SIPUS Terpadu versi 3 (tiga).
Hasil penelitian yang diambil dengan menggunakan kuesioner mendapatkan data kualitatif yang diukur berdasarkan skala Likert.. Skala pengukuran variabel data kualitatif bisa nominal, ordinal atau persepsi yang dirubah dalam bentuk skala interval. Contoh dalam penelitian ini variabel kebermanfaatan, kemudahan, dan penerimaan terhadap TI akan diukur dalam skala interval: 1 = Sangat Tidak Setuju; 2 = Tidak Setuju; 3 = Netral; 4 = Setuju; 5 = Sangat Setuju
Uji prasyarat (instrumen/kuesioner) dilakukan dengan menggunakan uji validitas data dan uji realibiltas data. Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui apakah semua pertanyaan (instrumen) penelitian yang diajukan untuk mengukur variabel penelitian adalah valid. Uji validitas dilakukan dengan melihat nilai signifikansi masing-masing instrumen. Sedangkan pengujian realibilitas digunakan untuk mengukur konsistensi jawaban responden. Kriteria pengujian dilakukan dengan menggunakan pengujian Cronbach Alpha (CA). Uji Prasyarat ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows versi 11.5.

HASIL
Merujuk hasil penelitian di atas, maka penelitian ini berhasil mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara faktor kebermanfaatan terhadap penerimaan penerimaan SIPUS versi 3, faktor kemudahan terhadap penerimaan SIPUS versi 3, dan kedua faktor tersebut secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap penerimaan SIPUS versi 3 di lingkungan UGM.
Hal ini menunjukkan bagaimana berpengaruhnya nilai kebermanfaatan dan kemudahan terhadap penggunaan dan penerimaan SIPUS versi 3 oleh pengguna (staf perpustakaan). Sehingga kebermanfaatan dan kemudahan ini menjadi faktor penting bagi pengguna sistem informasi perpustakaan di UGM untuk menerima atau tidak sistem informasi yang ditawarkan. Atau dengan kata lain, apakah sistem informasi yang ada sudah cukup layak dan ideal untuk memenuhi kebutuhan perpustakaannya dipengaruhi oleh faktor kebermanfaatan dan kemudahan.
Namun dari hasil statistik deskriptif yang didapat dari kuesioner yang disebarkan kepada seluruh pengguna SIPUS Terpadu versi 3 (tiga), ternyata tingkat penerimaan, kebermanfaatan dan kemudahan masih belum sampai kepada tingkatan BAIK atau DITERIMA. Artinya sebagian pengguna SIPUS masih merasa belum yakin bahwa SIPUS Terpadu versi 3 (tiga) bermanfaat, mudah dan dapat diterima. Hal ini didukung oleh hasil wawancara yang menunjukkan masih banyaknya kendala dalam penerapan SIPUS Terpadu versi 3 (tiga) di perpustakaannya.
Beberapa temuan yang berhasil didapatkan dari hasil wawancara dengan para narasumber yang dianggap mengetahui secara pasti implementasi di masing-masing perpustakaan adalah; (1) masih terdapatnya kesalahan (error) program; (2) belum berjalannya beberapa modul seperti pengelolaan majalah dan laporan penelitian; (3) sebagian besar perpustakaan pengguna SIPUS versi 3 ‘hanya’ memanfaatkannya untuk keperluan sirkulasi (peminjaman dan pengembalian), entri koleksi buku, entri anggota dan katalog perpustakaan. Sedangkan modul lain seperti laporan, majalah, bebas pustaka anggota, cetak kartu anggota, cetak barcode, pemesanan buku, pengolahan majalah, pengolahan laporan penelitian, dan modul lainnya belum digunakan. Hanya di UPU Perpustakaan saja yang diketahui sudah menggunakan untuk pencetakan bebas pustaka; (4) standar pengolahan buku atau koleksi di dasarkan pada kebutuhan untuk koleksi umum di perpustakaan pusat, belum mampu mengakomodasikan kebutuhan spesifik untuk koleksi-koleksi di perpustakaan fakultas atau pusat studi. Hal ini berakibat tidak adanya informasi yang cukup spesifik mengenai penggunaan buku atau koleksi dalam bidang tertentu yang lebih spesifik; dan (5) SIPUS versi 3 belum mampu memenuhi kebutuhan sistem informasi perpustakaan secara menyeluruh terutama untuk perpustakaan di fakultas. Hasil penemuan ini menurut peneliti mempunyai pengaruh yang cukup signifikan sehingga pengguna SIPUS versi 3 belum yakin menerima dan menganggap SIPUS bermanfaat.
Hasil temuan lain dari wawancara dengan pihak pengembang dan dengan mengkonfirmasi kepada beberapa nara sumber dari perpustakaan pengguna SIPUS versi 3, ternyata proses pengembangan SIPUS tidak melalui studi kelayakan atau eksplorasi terhadap kebutuhan-kebutuhan yang ada di perpustakaan secara menyeluruh. Hal ini menurut peneliti juga merupakan masalah yang sangat mempengaruhi penilaian pengguna terhadap SIPUS versi 3 ini. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa pemakaian SIPUS versi 3 terlihat lebih ‘berhasil’ digunakan di perpustakaan UPU Perpustakaan daripada di perpustakaan lainnya seperti perpustakaan fakultas Ekonomi, fakultas MIPA dan fakultas Filsafat. Hal ini ditunjukkan dengan lebih banyaknya fasilitas dan modul dalam SIPUS versi 3 yang digunakan dan dimanfaatkan di UPU Perpustakaan di bandingkan tiga perpustakaan lainnya di fakultas. Kenyataan ini terlihat dari implementasi di perpustakaan fakultas MIPA, Ekonomi dan Filsafat hanya digunakan sebatas untuk keperluan OPAC dan transaksi Sirkulasi, sedangkan di UPU Perpustakaan sudah digunakan untuk keperluan OPAC, Transaksi Sirkulasi, Pencetakan Surat Bebas Pustaka, dan beberapa Laporan Transaksi seperti Denda.
Apabila merujuk pada syarat sebuah sistem informasi perpustakaan yang seharusnya meliputi berbagai fasilitas seperti untuk pengadaan, pengolahan dan katalogisasi, keanggotaan, transaksi sirkulasi, statistik dan laporan, penelusuran informasi, serta kontrol terbitan berseri atau berkala, maka terlihat bahwa SIPUS versi 3 belum dapat dikatakan sebagai sebuah sistem informasi perpustakaan. Sehingga dengan kata lain SIPUS versi 3 baru dalam tingkatan sistem pemrosesan transaksi (Transaction Processing System) yang fungsinya hanya mengganti dari fungsi transaksi manual ke elektronis. Sehingga agar memenuhi syarat tersebut maka harus ada perbaikan pada kesalahan / error program yang terjadi, perbaikan modul-modul yang belum berjalan, dan terakomodasikannya kebutuhan sistem informasi perpustakaan secara menyeluruh.
Simpulan lain yang dapat diambil adalah kedua variabel prediktor yakni kebermanfaatan dan kemudahan mampu memprediksi variabel penerimaan terhadap SIPUS. Sehingga apabila kedua variabel prediktor tersebut nilainya meningkat, maka nilai dari penerimaan terhadap SIPUS pun akan meningkat, dan juga sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan penerimaan SIPUS versi 3, maka pihak pengembang harus mampu meningkatkan faktor kebermanfaatan dan kemudahan dari SIPUS versi 3 ini. Penelitian ini juga berhasil menguji model TAM menunjukkan bahwa kebermanfaatan SIPUS dan kemudahan mampu menjelaskan variasi penerimaan SIPUS sebesar 63,8 %, atau dengan kata lain sisanya sebesar 36,2 % berupa faktor lain seperti kelengkapan sistem informasi, kualitas sistem informasi (software), kualitas informasi, kepuasan pengguna, kenyamanan, dan sebagainya.

Sumber skripsi:
Surachman, A.(2008). Analisis penerimaan sistem informasi perpustakaan (SIPUS) terpadu versi 3 di lingkungan universitas gadjah mada (UGM). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Selasa, 22 Oktober 2013

Sistem Informasi Berbasis Komputer dan Arficial Intelligence By: Anna Aulia

PENDAHULUAN

Kemajuan Zaman yang semakin pesat diimbangi dengan kemajuan teknologinya. Adanya teknologipun sudah menjadi menjadi suatu kebutuhan bagi manusia, selain itu teknologi juga memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, dan pengguna teknologi tidak hanya dari kalangan atas tapi banyak pula para pengguna yang berasal dari kalangan bawah.
Telah diketahui bahwa informasi merupakan salah satu sumber daya yang sngat diperlukan bagi manajemen dalam pengambilan keputusan .Untuk mendapatkan informasi tersebut perlu adanya sebuah sistem yang mengolah data menjadi sebuah sistem informasi yang beharga. Sistem tersebut disebut dengan information processing system atau lebih dikenal dengan sistem informasi .Sistem informasi sendiri dapat dibedakan menjadi dua yaitu sistem informasi manual dan sistem informasi berbasis komputer .Sistem informasi berbasis komputer merupakan suatu sistem pengolahan data menjadi informasi dengan menggunakan alat bantu pengambilan keputusan .Dalam sistem informasi berbasis komputer ini memiliki arti bahwa komputer mempunyai peranan yang sangat penting didalam sebuah sistem informasi tersebut .
Sistem Pakar berasal dari dua kata yaitu sistem dan pakar. Sistem adalah beberapa elemen yang di tekankan adalah efektifitas (untuk mencapai suatu tujuan). Pakar adalah seseorang yang ahli pada suatu bidang. Diharapkan dengan sistem ini, orang awam dapat menyelesaikan masalah tertentu baik ‘sedikit’ rumit ataupun rumit sekalipun ‘tanpa’ bantuan para ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan bagi para ahli, sistem ini dapat digunakan sebagai asisten yang berpengalaman.
Di samping itu kita memerlukan sistem pengambilan keputusan. Sistem pengambilan keputusan berguna untuk memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data / informasi bagi pemakainya, memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur, menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan, dan menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya, karena mampu menyajikan berbagai alternatif pemecahan.
Adanya AI (Artificial Intelligence) memberikan banyak sekali manfaat bagi kita,bahkan hampir semua aspek tak lepas dari AI. Namun dilain pihak ada juga kerugian yang disebabkan oleh AI, seperti berkurangnya lapangn kerja manusia, manusia menjadi malas,adanya kesalahan atau kerusakan yang terjadi pada alat-alatnya. Untuk itulah semua itu diperlukan yaitu untuk mempermudah pekerjaan manusia.

A. Pengertian Computer Based Information System (CBIS)

Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer. Berikut penjelasan masing-masing istilah tersebut.
- Sistem Pakar
Sistem pakar (expert system) secara umum adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Atau dengan kata lain sistem pakar adalah sistem yang didesain dan diimplementasikan dengan bantuan bahasa pemrograman tertentu untuk dapat menyelesaikan masalah seperti yang dilakukan oleh para ahli.
Adapun pengertian lain yaitu Sistem pakar merupakan salah satu bidang teknik kecerdasan buatan yang cukup diminati karena penerapannya diberbagai bidang baik bidang ilmu pengetahuan maupun bisnis yang terbukti sangat membantu dalam mengambil keputusan dan sangat luas penerapanya. Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang dirancang agar dapat melakukan penalaran seperti layaknya seorang pakar pada suatu bidang keahlian tertentu.

Contoh Aplikasi Sistem Pakar di bidang Manajerial
1. Analisis
o Interpretasi
• Analisa pasar untuk komoditi tertentu
• Identifikasi media iklan yang sesuai
• Identifikasi kebutuhan pelatihan
o Diagnostik
• Diagnosa kelesuan perusahaan dan usaha penyembuhan
2. Sintesa
o Penarikan tenaga kerja
o Strategi penentuan harga
o Strategi pengembangan produk
3. Integrasi
o Prediksi perkembangan nilai pada bursa saham efek
- Sistem pengambilan keputusan
Sistem Pengambilan Keputusan atau SPK yang biasa disingkat jika menggunakan bahasa inggris itu adalah DSS atau Decision Support System adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan (manajemen pengetahuan)) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Jadi, DSS atau SPK ini adalah sebuah sistem yang memberikan pertimbangan kepada bagian manager sampai ke direktur atau pemilik saham dalam perusahaan, untuk memutuskan sebuah kebijakan tertentu dalam perusahaan.
Contoh aplikasi dari sistem pengambilan keputusan adalah aplikasi sistem pendukung keputusan pemilihan jurusan siwa/siswi SMA menggunakan metode AHP. : http://wahyoe04.blogspot.com/2013/01/contoh-program-penentuan-jurusan-sma.html

B. Artifical Intelligence

Jika dapat menjelaskan bagaimana manusia berfikir maka kita dapat membuat computer yang pintar bekerja untuk kita. Dengan begitu dapat membuat database yang baik. Database pada manusia contohnya memori.
Kecerdasan Buatan (bahasa Inggris: Artificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games),logika fuzzy, jaringan syaraf tiruan dan robotika.
Artificial Intelligence atau AI dalam bahasa Indonesia artinya Kecerdasan Buatan yaitu kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas ilmiah. Kecerdasan dibuat dan dimasukkan ke dalam suatu mesin/ komputer supaya bisa melakukan pekerjaan seperti yang bisa dikerjakan oleh manusia. Contohnya adalah kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, perencanaan dan penjadwalan, pengendalian, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah. Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah di kehidupan yang nyata. Terdapat macam-macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan diantaranya yaitu: game komputer, sistem pakar, jaringan syaraf tiruan, logika fuzzy danrobotika.
Kelebihan Artificial Intelligence:
• Artificial Intelligence bersifat konsisten dan teliti .
• Artificial Intelligence lebih bersifat permanent.
• Artificial Intelligence dapat lebih murah daripada kecerdasan alami.
• Artificial Intelligence menawarkan kemudahan untuk digandakan atau disebarkan.
• Artificial Intelligence dapat didokumentasi.

Contoh Penerapan Artificial Intelligence:
• SYSTRAN.
perangkat lunak untuk penerjemahan bahasa.
• Delco Electronics.
Mobil yang dapat mengemudikan sendiri yang menggunakan pendeteksi tepi untuk tetap bertahan di jalan.
• Deep Blue.
program catur 1997 yang mengalahkan Garry Kasparov pecatur dunia .
• Volkswagen AG.
Sistem pengemudi kendaraan otomatis yang diciptakan oleh Jerman.
• Bidang Kesehatan
Pada bidang kesehatan, sistem kecerdasan buatan telah digunakan, slah satunya adalah algoritma genetika yang memungkinkan simulasi proses evolusi dan rekayasa genetika diuji coba tanpa memerlukan “korban” makhluk hidup. Algoritma ini juga dapat digunakan untuk pencocokan DNA yang sering digunakan dan saat ini mungkin populer untuk mengidentifikasi identitas seseorang.
• Bidang mainan
Peralatan permainan seperti AIBO dan ASIMO, robot anjing cerdas dan robot yang menyerupai manusia yang dapat berinteraksi dengan manusia menjadi salah satu favorit alat bermain yang telah menggunakan kecerdasan buatan pada sistemnya. AIBO dan ASIMO ini dapat berinteraksi dengan manusia melalui suara, fitur speech recognition di dalamnya, robot ini dapat mengerti apa yang diucapkan manusia dan menanggapinya.

Kesimpulan
Sistem informasi berbasis komputer merupakan suatu sistem pengolahan data menjadi informasi dengan menggunakan alat bantu pengambilan keputusan. Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis.
Selain itu, ada sistem pakar. Sistem pakar merupakan salah satu bidang teknik kecerdasan buatan yang cukup diminati karena penerapannya diberbagai bidang baik bidang ilmu pengetahuan maupun bisnis yang terbukti sangat membantu dalam mengambil keputusan dan sangat luas penerapanya. Diharapkan dengan sistem ini, orang awam dapat menyelesaikan masalah tertentu baik ‘sedikit’ rumit ataupun rumit sekalipun ‘tanpa’ bantuan para ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan bagi para ahli, sistem ini dapat digunakan sebagai asisten yang berpengalaman.
Sistem Pengambilan Keputusan atau SPK yang biasa disingkat jika menggunakan bahasa inggris itu adalah DSS atau Decision Support System adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan (manajemen pengetahuan) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Artificial Intelligence atau AI dalam bahasa Indonesia artinya Kecerdasan Buatan yaitu kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas ilmiah. Kecerdasan dibuat dan dimasukkan ke dalam suatu mesin/ komputer supaya bisa melakukan pekerjaan seperti yang bisa dikerjakan oleh manusia. Semua sistem yang berbasis computer itu sangat bermanfaat untuk mempermudah pekerjaan manusia.

Sumber:
1. http://www.perpuskita.com/cbis/624/
2. http://sonyanovelisa.blogspot.com/2012/10/aplikasi-penerapan-sistem-pakar-dalam_6579.html
3. http://artikel-teknologi-informasi.blogspot.com/2013/06/artikel-pengertian-sistem-pakar.html
4. http://febriansatria.wordpress.com/2012/11/07/sistem-pengambilan-keputusan/
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan
6. http://temukanpengertian.blogspot.com/2013/08/pengertian-artificial-intelligence.html
7. http://kuliah-ai-ubibwi.blogspot.com/2012/10/aplikasi-kecerdasan-buatan-artificial.html
8. http://udifq.wordpress.com/2010/10/14/pemanfaatan-aiartificial-intelligence/
9. http://hairun-nisya.blogspot.com/2012/11/manfaat-sistem-pendukung-keputusan-spk.html