BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 25 April 2013

3. Beharioural Therapy By: Anna Aulia

3. Beharioural Therapy

Tokohnya Arnold Lazarus. Terapi perilaku member tekanan pada saling mempengaruhi antara individu dan lingkungannya. Faktor kognitif dan reaksi subjektif orang pada lingkungannya sekarang mendapatkan tempat dalam praktek terapi ini. Terapi perilaku didasarkan pada prinsip belajar yang bersumber pada eksperimen untuk menolong orang agar bisa mengubah perilaku maladaptif. Terapi ini berfokus pada problem klien serta faktor yang mempengaruhinya. Menekankan pada perubahan perilaku yang terbuka sebagai kriteria utama yang seharusnya dievaluasi. Terapi ini banyak bersifat mendidik. Ada penekanan pada mengajarkan klien keterampilan untuk bisa menangani diri dengan harapan mereka bisa bertanggung jawab pada kehidupannya sehari-hari.

- Proses terapi.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi perilaku yang dianggap bermasalah. Langkah berikutnya terdiri dari menentukan aset serta kekuatan yang dimiliki klien. Langkah ketiga adalah membuat informasi terkumpul ke dalam konteks dimana perilaku bermasalah itu terjadi. Langkah keempat mencakup menetapkan strategi untuk mengukur setiap perilaku bermasalah. Langkah kelima, penguat-penguat potensial klien disurvai untuk mengidentifikasi orang, aktifitas, dan benda-benda yang bisa memberi motivasi dan bisa tetap terjadinya perubahan setelah terapi berakhir. Tugsa terapis adalah mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk member fasilitas pada penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang adaptif.

- Kelemahan terapi perilaku.
Klien tidak didoronng untuk menghayati emosi mereka, dalam mengkonsentrasikan pada bagaimana cara klien tersebut berperilaku dan berfikir konselor memainkan kegiatannya lewat isu emosional. Kesalahan yang dibuat oleh beberapa orang konselor adalah hanya mendapatkan masalah yang kurang berari oleh karena mereka memfokuskan pada idu yang diajukan, yang kemudian digarapnya dan bukan mendengarkan pesan klien yang lebih dalam. Terapi perilaku mungkin mengubh perilaku, tetapi tidak mengubah perasaan. Perilaku mengabaikan faktor rasional yang penting dalam terapi, terapi perilaku tidak menyediakan pemahaman. Terapi perilaku mengabaikan penyebab historis dari perilaku yang ada sekarang. Terapi ini meyangkut control dan manipulasi dari terapis.

Referensi:
Corey, Gerald. (1995. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Selasa, 16 April 2013

Terapi Rational Emotive By Anna Aulia

2. Terapi Rational Emotive

Tokohnya adalah Albert Ellis. Terapi rasional emotif didasarkan pada suatu asumsi bahwa manusia memiliki potensi berfikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Ellis telah menyimpulkan bahwa manusia itu berbicara sendiri, mengevaluasi sendiri, dan bertahan sendiri. Ellis juga menekankan bahwa manusia memiliki naluri kecenderungan menuju ke pertumbuhan dan aktualisasi.
- Teori ABC dari kepribadian
Teori A-B-C menduduki posisis sentral dalam teori dan praktek TRE. A adalah keberadaan nya fakta, suatu peristiwa atau perilaku atau sikap sesorang individu. C adalah konsekuensi emosi dan perilaku ataupun reaksi individu. Reaksi itu bisa cocok, ataupun tidak cocok. A (peristiwa yang sedang bejalan) tidak menjadi penyebab C (konsekuensi emosi). Melainkan B, yaitu keyakinan si pribadi A menjadi penyebab C, reaksi emosi. Setelah A,B,C munculah D yang meragukan atau membantah. Pada aplikasinya D adalah metode ilmiah untuk enolong klien menantang keyakinan irasional mereka. Akhirnya sampailah mereka pada E falsafah efektif yang memiliki segi praktis. Falsafah ini menggantikan yang tidak pada tempatnya dengan yang cocok. Apabila kita berhasil dalam melakukan ini, kita juga menciptakan F atau perangkat perasaan yang baru. Kita tidak lagi merasakan cemas yang tertekan melainkan merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.
A: peristiwa yang sedang terjadi
B: keyakinan
C: Konsekuensi emosi dan perilaku
D: Intervensi yang meragukan
E: efek
F perasaan baru

- Sasaran terapi
Sasaran spesifik yang dituju oleh terapis TRE dalam menggarap kliennya antara lain:
minat diri sendiri, minat sosial, pengarahan diri, tenggang rasa, keluwesan, kesediaan menerima adanya ketidak pastian, komitmen, berfikir ilmiah, mau menerima diri sendiri, mau menerima resiko, tidak menjadi utopis, bertoleransi tinggi terhadap frustasi, dan mau mempertanggungjawabkan gangguan.

- Fungsi dan peranan terapis
Terapis memiliki tugas khusus, yaitu, Langkah pertama adalah menunjukan kepada klien bahwa mereka telah menggunakan banyak hal yang “seharusnya” irasional. Langkah kedua terapis membawa klien melampaui tahap kesadaran. Langkah ketiga, menolong mereka memodifikasi pikiran mereka dan meninggalkan ide mereka yang irasional. Keempat yaitu menantang klien untuk mengembangkan falsafah hidup yang rasionil sehingga di masa depan mereka bisa menghindari diri untuk tidak menjadi korban dari keyakinan irasional yang lain.

- Teknik dan prosedur praktek dari terapi rasional-emotif
a. Metode kognitif. Beberapa teknik kognitif antara lain :
1) Mempertanyakan keyakinan irasional. Terapis menunjukan kepada klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa tertentu yang terjadi melainkan karena persepsi mereka sendiri atas peristiwa itu dan karena sifat dari pernyataan mereka terhadap diri sendiri.
2) Pekerjaan rumah kognitif. Mereka diberi pekerjaan rumh yaitu cara untuk melacak “seharusnya” yang mutlak merupakan bagian dari pesan diri mereka yang terinternalisasi.
3) Mengubah gaya berbahasa seseorang. Klien belajar bahwa “seharusnya” bisa diganti dengan preferensi. Praktisi berlandasan bahwa bahasa membentuk pola berpikir dan pola berpikir membentuk bahasa.
4) Penggunaan humor. TRE berpendapat bahwa gangguan emosional sering kali merupakan hasil dari sikap diri yang terlalu serius dalam memandang hidup mereka kehilangan cita rasa perspektifnya serta rasa humor.

b. Teknik emotif. Beberapa teknik emotif antara lain :
1) Imaginasi rasional emotif. Klien membayangkan mereka sedang berpikir, merasakan, dan berperilaku tepat seperti yang akan mereka lakukan dalam imaginasi mereka serta merasakan dan berperilaku dalam kehidupan nyata.
2) Bermain peran. Terapis sering meninterupsi untuk menunjukan kepada klien apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri yang menciptkan gangguan dan apa yang mereka perbuat untuk mengubah perasaan mereka yang tidak pada tempatnya menjadi sesuai.
3) Latihan menyerang rasa malu. Maksud utama dari latihan ini adalah bahwa klien berusaha untuk tidk merasa mlu meskipun orang lain jelas-jelas tidak menyetujuinya.
4) Penggunaan kekuatan dan ketegaran. Klien ditunjukan bagaimana cara menggunakan dialog keras pada diri mereka sendiri dimana mereka mengungkapkan keyakinan irasional mereka dan selanjutnya mempertanyakannya.

- Kelemahan pada terapi rasional emotif
Kritikan utama yang ditunjukan pada TRE mencakup aspek kehidupan klien yang diingkari dan diabaikan oleh pendekatan umum. Banyak klien yang dengan mudah diintimidasi terutama sebelum terapis mendapatkan respek dan kepercayaan dari klien setelah terciptanya hubungan yng kokoh antara keduanya. Apabila klien merasa tidak didengarkan atau diperdulikan maka ada kemungkinan besar klien akan meninggalkan kegiatan terapi.

Referensi :
Corey, Gerald. (1995. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Kamis, 11 April 2013

Analisis Transaksional by: Anna Aulia

1. Analisis Transaksional

Analisis transaksional adalah suatu pendekatan psikoterapeutik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis. Analisis transaksional gagasan Eric Berne (1910-1970) merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh diantara mansia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri). Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi dan mengatur situasi yang paling dalam dan nteraksi kehidupan nyata.

- Kategori Analisis Transaksional
a. Keadaan Ego (ego states)
Keadaan ego didefinisikan sebagai “realita ego yangbenar-benar dialami oleh seorang secara mental dan fisik” pada waktu tertentu. Selanjutnya, dipostulasikan keadaan ego memperlihatkan seperangkat pengalaman-pengalaman internal yang khas, dan juga seperangkat perilaku-perilaku yang dapat diamati.
b. Transaksi
Karena keadaan ego merupakan struktur dasar kepribadian, manusia berinteraksi satu sama lain dari satu atau lebih keadaan ego tersebut. Berne membedakan tiga transaksi: timbale-balik atau komplementer, silang, dan tersembunyi.
c. Permainan drama segitiga
Didefinisikan sebagai suatuurutan transaksi tersembunyi yang berlangsung melalui tahap-tahap yang didefinisikan dengan baik hingga suatu dampak yang dapat diramalkan menyebutnya “memberikan hasil”.
d. Naskah
e. Gerakan dan Lakon Cerita
f. Posisi Kehidupan
g. Perintah dan keputusan ulang naskah

- Analisis transaksional dan penyembuhan
Bersamaan dengan keyakinan dalam ke-OK-an dasar klien, para terapis AT yakin akan suatu konsep penyembuhan bukan kemajuan atau kesadaran, tetapi bukan wawasan atau perubahan, tetapi penyembuhan. Berne menguraikannya sebagai berikut:
a. Pengendalian sosial
b. Penyembuhan gejala
c. Penyembuhan transferensi
d. Penyembuhan naskah
Baru-baru ini para terapis AT telah membagi penyembuhan kedalam penyembuhan sosial dan penyembuhan psikologis. Penyembuhan sosial menawarkan suatu model interaksional, yang menggunakan alat-alat untuk bekerja dalam berbagai bidang praktik:
a. Terapi pasangan
b. Terapi kelompok kecil- AT bekerja dengan bagus dalam kelompok karena terapi ini memungkinkan untuk mengidentifikasikan transaksi-transaksi pada saat itu
c. Terapi keluarga
d. Ruang kerja dan perkembangan organisasi

- Tahap-tahap Analisis Transaksional
1. Analisis Struktural
Sadar akan tahap ego yang menyususn dan menemukan fenomenologi kepribadian. Ketiga tahap ego ini antara lain orang tua, dewasa, anak. Tahap analisis transaksional cocok digunakan dalam pertemuan sosial yang disebut transaksional, yaitu pertemuan dua atau lebih individu. Orang pertama menciptakan stimulant transaksional, orang kedua menciptakan suatu respon transaksional.
2. Analisis Transaksional yang Pantas
3. Analisis Permainan
Tahap ini sebagai suatu seri pertumuhan transaksi pelengkap tersembunyi dan sebagai hasil yang dapat diprediksi.
4. Analisis Tulisan
Dibandingkan dengan tulisan-tulisn yang berhubungan dengan drama, tulisan dalam AT adalah mereka yang mengabdikan diri seluruhnya pada drama.
5. Kontrol Sosial
Pertumbuhan lewat setiap tahap analisis structural pasien akhirnya mencoba mencapai control sosial.

- Kelebihan Analisis Transaksional
Berne menunjukkan bahwa salah satu nilai lebih dari AT ialah bahwa terapi ini adalah psikiatri sosial dan psikologi individual. Terapi ini memberikan suatu perspektif yang unik tentang interaksi sosial dan fenomena sosial lain. Sering kali pelayanan bersifat tatap muka dengan penekanan umum pada permainan-permainan yang dimainkan di dalam ruang penanganan dan dengan memfokuskan pada transferensi dan konstransferensi perilaku-perilaku yang digerakkan dalam pelayanan naskah.


Sumber:
1. Roberts, Albert. R & Gilbert. J . Buku pintar pekerja sosial. BPK. Gunung Mulia
2. Naisaban, Ladlidaus. Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya. Grasindo

Rabu, 27 Maret 2013

Person Centered Therapyl by Anna Aulia

3. Person Centered Therapy

Terapi ini disebut juga client centered Therapy (terapi yang berpusat pada pasien) atau terapi non direktif. Terapi ini pada awalnya dipakai oleh Carl Rogers (1902-1987) pada tahun 1942. Sejak itu banyak prinsip rogers yang dipakai dalam terapi diterima secara luas. Tetapi teknik ini dipakai secara lebih terbatas pada terapi mahasiswa dan orang-orang dewasa muda lain yang engalami masalah-masalah penyesuaian diri yang sederhana. Carl rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungn dasar yang mendorong mereka ke aras pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan rogers, gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju aktualisasi-diri.
Pendekatan humanistik rogers teradap terapi- Person centered therapy- membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Focus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantu berhubungan dengan perasaan-perasaan nya yang lebih dalam dan bagian-bagian dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantullkan kembali atau menguraikan dengan kata-kata apa yang diungkapkan pasien tanpa member penilaian.

- Metode terapi person-centered
Rogers mengemukakan enam syarat dalam proses terapi person-centered yang harus dipenuhi oleh terapis. Rogers mengatakan pasien akan mengadakan respon jika (1) terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri (2) terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk menggerakan dirinya kearah kematangan (kedewasaan) serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan-kekuatan ini dan bukan usahanya sendiri. (3) mencipakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang diinginkannya (4) membatasi tingkah laku tetai bukan sikap (misalnya pasien mungkin mengungkapkan keinginan nya untuk memperpanjang petemuan melampaui batas waktu yang telah disetujui, tetapi terapis tetap memperthankan jadwal semula) (5) terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi yang sedang diungkapkan pasien. (6) terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, membujuk, dan meyakinkan kembali.

- Definisi-definisi dan konsep-konsep lain yang penting dalam terapi person centered:
1. Self concept (konsep diri) mengenai konsepsi seseorang tentang dirinya.
2. Ideal self (diri ideal) mengenai self-concept yang ingin dimiliki seseorang (seseorang ingin menjadi apa)
3. Ketidakselarasan (incongruence) antara diri dan pengalaman yaitu suatu celah antara celf concept seseorang dan apa yang dialaminya.
4. Ketidakmampuan menyesuaikan diri secara psikologis (psychological malajdusment). Terjadi bila seseorang menyangkal atau mendistorsi pengalaman-pengalaman yang penting.
5. Keselarasan antara diri dan pengalaman
6. Kebutuhan akan penghargaan positif (need for positive regards)
7. Kebutuhan akan harga diri


- Contoh Proses terapi
Ketidakselarasan atau disosiasi merupakan suatu masalah yang terus menerus ditemukan oleh orang-orang yang mempelajari dinamika tingkah laku manusia. Contoh ketidaklarasan yang jelas adalah seorang siswa yang secara sadar ingin supaya berhasil di skolah tetapi ia terus menerus melakukan tingkah laku yang bertentenangan dengan usahanya untuk berhasil dan dia sendiri yakin bahwa dia gagal. Pada umumnya rogers menjawab maslah ini dengan berkata bahwa ada suatu ketidaklarasan atau kerekatan antara self-concept individu tersebut dan pengalaman organism nya karena cinta dari orang tua nya dan orang-orang lain yang berpengaruh dalam hidupnya dijadikan syarat untuk mengintroyeksikan gagasan-gagasan dan nilai-nilai tertentu seolah-oleh menjadi miliknya. Agasan dan nilai yang diinkorporasika dengan self concept nya sering kali tegar dan statis serta menghambat proses normal anak itu untuk menilai pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, anak tersebut mengembangkan dan berusaha mengaktualisasikan suatu self (diri) yang bertentangan atau tidak selaras dengan proses organismik yang berdasarkan tendensi aktualisasi.

- Kelebihan
1. Pendekatan ini menekankan bahwa konseli dpat menentukan keberhasilan atau kegagalan proses konseling.
2. Konseli diberi kebebasan untuk merubah dirinya sendiri
3. Pentingnya hubungan antar pribadi dalam proses konseling
4. Pentingnya konsep diri
5. Konselor berperan untuk mengarahkan dan menunjukan sikap pemahaman dan penerimaan

- Kelemahan
1. Terkadang konseli seolah-olah merasa tidak diarahkan dan merasa tidak adanya tujuan yang jelas dari proses konseling, apalagi jika tidak adanya pengarahan dan saran dari konselor
2. Pendekatan ini dianggap terlalu terikat pada lingkungan kebudayaan Amerika serikat, yag sangat menghargai kemandirian seseorang dan pengembangan potensi dalam kehidupan masyarakat.
3. Client-centered counseling yang beraliran ortodoks akan sulit diterapkan terhadap siswa dan mahasiswa dan jarang dilaksanakan dalam institusi pendidikan di Indonesia.

Referensi:
1. Semiun, Yustinus (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
2. Psikologi Konseling: Oleh Rizky Putri Asridha Sriemadingin, M.psi

Kamis, 21 Maret 2013

Terapi Humanistik Eksistensial by: Anna Aulia

Tokoh nya antara lain Carl Rogers. Terapi-terapi humanistik-eksistensial memusatkan pada pengalaman-pengalaman dasar. Tarapi ini juga memusatkan perhatian pada apa apa yang dialami pasien pada masa sekarang –“di sini dan kini”- dan bukan pada masa lampau. Tapi ada kesamaan antara terapi psikodinamik dengan terapi humanistic, yakni kedua-duanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan persaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.

- Kelebihan
1. Bersifat pembentukan kepribadian, hai nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena social
2. Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan antaupun masa transisisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa.

- Kekurangan
1. Pendekatan ini kurang sistematis pada prinsip-prinsip dan praktek terapi.
2. Beberapa penulis eksistensialisme menggunakan konsep abstrak atau global dan samar-samar. Sulit untuk dipegang.
3. Memiliki keterbatasan penerapan pada kasus level keberfungsian klien yang rendah, klien yang ekstrem yang membutuhkan penanganan secara langsung
4. Proses terapi membutuhkan waktu yang panjang dan ketidakpastian kapan berakhir, berapa jam dan berapa kali pertemuan.

- Tujuan terapi
Memiliki tujuan mengembalikan individu kepada pemikiran autentik tentang dirinya. Tanggung jawab personal terhadap diri, perasaan, perilaku, dan pilihan ditekankan. Individu didorong untuk hidup sepenuhnya pada masa kini dan memandang masa depan.

- Langkah-langkah dalam proses terapi
Karena pendekatan eksistensial tidak memiliki metodologi, maka sulit mengemukakan langkah-langkah terapeutik yang khas. Dengan tidak adanya metodologi, maka para terapis eksistensial sering mengambil metode dan prosedur dari pendekatan-pendekatan terapi lainnya, seperti metode dan prosedur dari terapi gestalt, analisis transaksional, dan psikoanalisis yang diidntegrasikan dalam pendekatan eksistensal. Metode dan prosedur yang digunakan mereka juga sangat bervariasi, tidak hanya dari pasien yang satu kepada pasien yang lain tetapi juga dari fase yang satu ke fase yang lain terhadap pasien yang sama.

Referensi:
1. Semiun, Yustinus (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
2. Psikologi Konseling: Oleh Rizky Putri Asridha Sriemadingin, M.psi
3. Videbeck, Sheila. L (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Sabtu, 16 Maret 2013

Terapi Psikoanalisa By: Anna Aulia

1. Terapi Psikoanalisa

Teori Psikoanalitik Freud memusatkan perhatian pada pentingnya pengalaman masa kanak-kanak. Dalam pandang ini, benih-benih gangguan psikologis sudah tertanam sejak awal masa pertumbuhan manusia. Selanjutnya, freud mengembangkan sebuah terapi yang disebut terapi psikoanalitik. Freud menggunakan psikoanalitik untuk membantu klien memperoleh pemhaman mengenai konflik-konflik tak sadar dan memecahkannya. Apabila metode yang digunakan oleh terapi psikoanalitik mengembangkan dalam diri pasien suatu pemahaman (insight) baru terhadap kekuatan-kekuatan kepribadiannya, maka psikoanalitik sudah berada pada jalan menciptakan penyesuaian diri pada diri pasien terhadap lingkungannya. Dengan bekerja melalui konflik-konflik ini, ego akan dibebaskan dari dorongan untuk mempertahankan tingkah laku defense seperti Fobia, tingkah laku obsesif-kompulsif, keluhan histerikal, dan sebagainya.

- Tujuan Terapi Psikoanalitik Tujuan psikoanalitik adalah memperkuat ego, membuatnya lebih independent dari super ego, memperlebar medan persepsinya, memperluas organisasinya sehingga ia apat memiliki bagian-bagian yang segar dari id. Psikoanalitik dapat membantu memancarkan terang kesadaran (yang diwakilkan oleh ego sadar) pada pekerjaan-pekerjaan id.

- Kelebihan Terapi Psikoanalitik:
1. Dengan terapi ini, terapis bisa mengetahui masalah pada diri klien, karena proses nya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
2. Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.

- Kelemahan Terapi Psikoanalitik
1. Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang
2. Memakan banyak biaya bagi klien
3. Karena waktunya lama, bisa membuat klien menjadi jenuh
4. Diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk melakukan terapi

- Ada beberapa teknik terapi psikoanalisis, diantaranya: 1. Asosiasi Bebas
Dalam teknik ini, klien disuruh untuk duduk santai atau tidur lalau menceritakan semua pegalaman yang terlintas dalam benaknya baik yang teratur maupun yang tidak, sepele atau penting, logis atau tidak logis, relevan atau tidak, semuanya harus di ungkapkan. Asosiasi-asosiasi yang diucapkan itu kemudian ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar pengalaman-pengalaman yang direpres.

2. Analisis Mimpi
Freud memandang sebagai jalan utama kea lam tak sadar karena isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Keinginan-keinginan itu muncul lagi dalam bentuk symbol sebagai jalan menuju kepuasan

3. Analisis Transferensi
Terjadi kalau dalam pertemuan terapi terungkap adanya displacement dalam diri pasien. Hal itu terjadi kalau pasien mengalihkan sasaran cinta atau bendinya kepada terapeuti yang menanganinya. Transferensi itu menunjukan kebutuhan pasien untuk mengekspresikan kebutuhannya. Semua ini berlangsung secara tidak sadar, terapeut berusaha untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang sedang dialami atau yang diekspresikan nya pada terapeut, sehingga pasien memiliki satu pemahaman yang lengkap mengenai kesulitan yang sedang dialami.

- Apa yang Dibutuhkan Psikoanalisis dari pasien?
1. Motivasi
Hanya pasien yang termotivasi dengan kuata dapat bekerja dengan sepenuh hati dan ekun dalam psikoanalitik. Symptom-simptom neurotic atau cirri-ciri pembawaan yang bertentangan (tidak harmonis) tentu akan menyebabkan pasien cukup menderita dan membuatnya menahan kekerasan-kekerasan perwatan psikoanalitik. Pasien juga harus bersedia menghabiskan banyak biaya dan waktu, serta tidak mengejar keuntungan sekunder dari penyakitnya, juga hasil-hasil yang lebih cepat dan bersifat sementara. Pasien yang bersifat narsistik tidak akan mampu menahan ketegangan hubungan dengan terapis, dan pasien yang sangat pendiam (suka menyendiri) mungkin tidak sanggup menahan perasaan yang disebabkan oleh adanya jarak antara pasien dan analisis.
2. Kapasitas Pasien
Dibandingkan semua praktek psikoterapi, psikoanalisis menuntut lebih besar dan lebih banyak kepada pasien. Psikoanalisis tidak hanya member kesulitan pada pasien karena ia harus menahan kehilangan, frustasi, kecemasan, dan depresi dalam situasi analitik. Tetapi prosedur-prosedur psikoanalitik juga menuntut kemampuan pasien untuk melakukan secara tetap dan berulang beberapa fungsi ego yang berlawanan, terombang-abing di antara fungs ego itu, dan juga menyatukan fungsi-fungsi itu. Pasien diminta untuk (1) mengadakan regresi dan progresi, (2) menjadi pasif dan aktif, (3) melepaskan control dan mempertahankan control, serta (4) tidak menguji kenyataan dan tetap menguji kenyataan. Untuk mencapai keadaan ini, pasien harus memiliki fungsi-fungsi ego yang lentur (elastic dan fleksibel).

Referensi:
1. Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, dan Karya.: Oleh Ladidlaus Naisabah. Penerbit: Grasindo
2. Semiun, Yustinus (2006). Terapi Kepribadian dan Teori Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius
3. Psikologi Konseling: Oleh Rizky Putri Asridha Sriemadingin, M.psi

Rabu, 27 Februari 2013

Uzumaki Naruto Shippuden cosplay By: Annami

Annami as Uzumaki Naruto photo: Irfan