BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 31 Agustus 2013

Kushieda Minori cosplay by Annami (Toradora)



Annami as Kushieda Minori
Photo: Irfan



Annami as Kushieda Minori
Photo: Mahdi

Rabu, 29 Mei 2013

Saber Lily cosplay (Fate Unlimited Codes) By Annami



Annami as Saber Lily
photo: Ikhwan



Annami as Saber Lily
Yami as Gilgamesh
Photo: Tian



Annami as Saber Lily
photo: Tetuko

Senin, 06 Mei 2013

Logoterapi By: Anna Aulia

4. Logoterapy

Tokohnya Victor Frankl. Terapi ini berurusan dengan penyadaran manusia terhadap tanggung jawabnya karena tanggung jawab merupakan dasar yang hakiki bagi keberadaan manusia. Tanggung jawab berarti kewajiban dan kewajiban tersebut hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan makna, yakni makna hidup manusia. Jadi, logoterapi berkenaan dengan makna dalam berbagai aspek dan bidangnya. Makna keberadaan itu dapat berupa makna hidup dan mati, makna penderitaan, makna pekerjaan, dan makna mati.
Frankl mengungkapkan bahwa selama individu mempunyai makna hidup, ia akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang memuaskan. Sebaliknya, apabila individu tersebut tidak mempunyai makna atau tidak mampu memberikan arti dan tujuan hidupnya, ia akan menjadi pibadi yang tidak orisinil, kehilangan keyakinan dan terombang-ambing menurut kemauan lingkungannya. Logoterapi berasumsi bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup merupakan daya pendorong atau motivasi utama manusia untuk mencapai kehidupan yang penuh makna.

- Peranan dan kegiatan terapis
Menjaga hubungan yang akrab dan pemisah ilmiah. Terapis pertama-tama harus menciptakan hubungan antara pasien dengan mencari keseimbangan antara dua ekstrem, yakni hubungan yang akrab (seperti simpati) dan pemisahan secara ilmiah (menangani pasien sejauh ia melibatkan diri dalam teknik terapi).

- Teknik Logo terapi
2 teknik yang dikemukakan oleh Frankl telah member pencerahan besar. Teknikterkenal bernama Paradoxial intention dimana pasien diminta untuk melakukan respon terhadap objek perhatian dan kecemasan. Ketakutan tersebut lalu tergantikan dengan keinginan paradox. Contohnya, seorang klien mengatakan bahwa ia takut wajahnya memerah ketika ia berbiacara di depan banyak orang. Menurut Frankl, fakta paradox nya adalah bahwa wajahnya akan memerah ketika ia mencoba untuk melakukan apa yang dia takuti. Disini, terapis mencoba mengatasi kecemasannya. Contohnya dalam kasus ini, klien takut cemas ketika akan berbicara di depan banyak orang. Kemudian Frankl meminta klien untuk berbicara kepada dirinya sendiri “saya akan menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya ahli dalam berbicara di depan banyak orang dan tidak mungkin wajah saya memerah karena saya sudah percaya diri”
Teknik kedua yaitu de-reflection, meminta klien untuk menolak perilaku yang mengganggu atau symptom. Banyak klien memperlihatkan keselarasan antara respon bicara dan reaksi tubuh. Teknik ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian klien ke aktivitas yang lebih bermakna dan reflektif.

Referensi:
1. Semiun, Y. Kesehatan Mental 3 (google books)
2. Tasmara, T. (2001). Kecerdasan Ruhaniah. Gema Insani
3. Trull. T.J. (2005). Clinical Psychology. Wadsworth:USA

Kamis, 25 April 2013

3. Beharioural Therapy By: Anna Aulia

3. Beharioural Therapy

Tokohnya Arnold Lazarus. Terapi perilaku member tekanan pada saling mempengaruhi antara individu dan lingkungannya. Faktor kognitif dan reaksi subjektif orang pada lingkungannya sekarang mendapatkan tempat dalam praktek terapi ini. Terapi perilaku didasarkan pada prinsip belajar yang bersumber pada eksperimen untuk menolong orang agar bisa mengubah perilaku maladaptif. Terapi ini berfokus pada problem klien serta faktor yang mempengaruhinya. Menekankan pada perubahan perilaku yang terbuka sebagai kriteria utama yang seharusnya dievaluasi. Terapi ini banyak bersifat mendidik. Ada penekanan pada mengajarkan klien keterampilan untuk bisa menangani diri dengan harapan mereka bisa bertanggung jawab pada kehidupannya sehari-hari.

- Proses terapi.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi perilaku yang dianggap bermasalah. Langkah berikutnya terdiri dari menentukan aset serta kekuatan yang dimiliki klien. Langkah ketiga adalah membuat informasi terkumpul ke dalam konteks dimana perilaku bermasalah itu terjadi. Langkah keempat mencakup menetapkan strategi untuk mengukur setiap perilaku bermasalah. Langkah kelima, penguat-penguat potensial klien disurvai untuk mengidentifikasi orang, aktifitas, dan benda-benda yang bisa memberi motivasi dan bisa tetap terjadinya perubahan setelah terapi berakhir. Tugsa terapis adalah mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk member fasilitas pada penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang adaptif.

- Kelemahan terapi perilaku.
Klien tidak didoronng untuk menghayati emosi mereka, dalam mengkonsentrasikan pada bagaimana cara klien tersebut berperilaku dan berfikir konselor memainkan kegiatannya lewat isu emosional. Kesalahan yang dibuat oleh beberapa orang konselor adalah hanya mendapatkan masalah yang kurang berari oleh karena mereka memfokuskan pada idu yang diajukan, yang kemudian digarapnya dan bukan mendengarkan pesan klien yang lebih dalam. Terapi perilaku mungkin mengubh perilaku, tetapi tidak mengubah perasaan. Perilaku mengabaikan faktor rasional yang penting dalam terapi, terapi perilaku tidak menyediakan pemahaman. Terapi perilaku mengabaikan penyebab historis dari perilaku yang ada sekarang. Terapi ini meyangkut control dan manipulasi dari terapis.

Referensi:
Corey, Gerald. (1995. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Selasa, 16 April 2013

Terapi Rational Emotive By Anna Aulia

2. Terapi Rational Emotive

Tokohnya adalah Albert Ellis. Terapi rasional emotif didasarkan pada suatu asumsi bahwa manusia memiliki potensi berfikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Ellis telah menyimpulkan bahwa manusia itu berbicara sendiri, mengevaluasi sendiri, dan bertahan sendiri. Ellis juga menekankan bahwa manusia memiliki naluri kecenderungan menuju ke pertumbuhan dan aktualisasi.
- Teori ABC dari kepribadian
Teori A-B-C menduduki posisis sentral dalam teori dan praktek TRE. A adalah keberadaan nya fakta, suatu peristiwa atau perilaku atau sikap sesorang individu. C adalah konsekuensi emosi dan perilaku ataupun reaksi individu. Reaksi itu bisa cocok, ataupun tidak cocok. A (peristiwa yang sedang bejalan) tidak menjadi penyebab C (konsekuensi emosi). Melainkan B, yaitu keyakinan si pribadi A menjadi penyebab C, reaksi emosi. Setelah A,B,C munculah D yang meragukan atau membantah. Pada aplikasinya D adalah metode ilmiah untuk enolong klien menantang keyakinan irasional mereka. Akhirnya sampailah mereka pada E falsafah efektif yang memiliki segi praktis. Falsafah ini menggantikan yang tidak pada tempatnya dengan yang cocok. Apabila kita berhasil dalam melakukan ini, kita juga menciptakan F atau perangkat perasaan yang baru. Kita tidak lagi merasakan cemas yang tertekan melainkan merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.
A: peristiwa yang sedang terjadi
B: keyakinan
C: Konsekuensi emosi dan perilaku
D: Intervensi yang meragukan
E: efek
F perasaan baru

- Sasaran terapi
Sasaran spesifik yang dituju oleh terapis TRE dalam menggarap kliennya antara lain:
minat diri sendiri, minat sosial, pengarahan diri, tenggang rasa, keluwesan, kesediaan menerima adanya ketidak pastian, komitmen, berfikir ilmiah, mau menerima diri sendiri, mau menerima resiko, tidak menjadi utopis, bertoleransi tinggi terhadap frustasi, dan mau mempertanggungjawabkan gangguan.

- Fungsi dan peranan terapis
Terapis memiliki tugas khusus, yaitu, Langkah pertama adalah menunjukan kepada klien bahwa mereka telah menggunakan banyak hal yang “seharusnya” irasional. Langkah kedua terapis membawa klien melampaui tahap kesadaran. Langkah ketiga, menolong mereka memodifikasi pikiran mereka dan meninggalkan ide mereka yang irasional. Keempat yaitu menantang klien untuk mengembangkan falsafah hidup yang rasionil sehingga di masa depan mereka bisa menghindari diri untuk tidak menjadi korban dari keyakinan irasional yang lain.

- Teknik dan prosedur praktek dari terapi rasional-emotif
a. Metode kognitif. Beberapa teknik kognitif antara lain :
1) Mempertanyakan keyakinan irasional. Terapis menunjukan kepada klien bahwa mereka terganggu bukan karena peristiwa tertentu yang terjadi melainkan karena persepsi mereka sendiri atas peristiwa itu dan karena sifat dari pernyataan mereka terhadap diri sendiri.
2) Pekerjaan rumah kognitif. Mereka diberi pekerjaan rumh yaitu cara untuk melacak “seharusnya” yang mutlak merupakan bagian dari pesan diri mereka yang terinternalisasi.
3) Mengubah gaya berbahasa seseorang. Klien belajar bahwa “seharusnya” bisa diganti dengan preferensi. Praktisi berlandasan bahwa bahasa membentuk pola berpikir dan pola berpikir membentuk bahasa.
4) Penggunaan humor. TRE berpendapat bahwa gangguan emosional sering kali merupakan hasil dari sikap diri yang terlalu serius dalam memandang hidup mereka kehilangan cita rasa perspektifnya serta rasa humor.

b. Teknik emotif. Beberapa teknik emotif antara lain :
1) Imaginasi rasional emotif. Klien membayangkan mereka sedang berpikir, merasakan, dan berperilaku tepat seperti yang akan mereka lakukan dalam imaginasi mereka serta merasakan dan berperilaku dalam kehidupan nyata.
2) Bermain peran. Terapis sering meninterupsi untuk menunjukan kepada klien apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri yang menciptkan gangguan dan apa yang mereka perbuat untuk mengubah perasaan mereka yang tidak pada tempatnya menjadi sesuai.
3) Latihan menyerang rasa malu. Maksud utama dari latihan ini adalah bahwa klien berusaha untuk tidk merasa mlu meskipun orang lain jelas-jelas tidak menyetujuinya.
4) Penggunaan kekuatan dan ketegaran. Klien ditunjukan bagaimana cara menggunakan dialog keras pada diri mereka sendiri dimana mereka mengungkapkan keyakinan irasional mereka dan selanjutnya mempertanyakannya.

- Kelemahan pada terapi rasional emotif
Kritikan utama yang ditunjukan pada TRE mencakup aspek kehidupan klien yang diingkari dan diabaikan oleh pendekatan umum. Banyak klien yang dengan mudah diintimidasi terutama sebelum terapis mendapatkan respek dan kepercayaan dari klien setelah terciptanya hubungan yng kokoh antara keduanya. Apabila klien merasa tidak didengarkan atau diperdulikan maka ada kemungkinan besar klien akan meninggalkan kegiatan terapi.

Referensi :
Corey, Gerald. (1995. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Kamis, 11 April 2013

Analisis Transaksional by: Anna Aulia

1. Analisis Transaksional

Analisis transaksional adalah suatu pendekatan psikoterapeutik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis. Analisis transaksional gagasan Eric Berne (1910-1970) merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh diantara mansia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri). Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi dan mengatur situasi yang paling dalam dan nteraksi kehidupan nyata.

- Kategori Analisis Transaksional
a. Keadaan Ego (ego states)
Keadaan ego didefinisikan sebagai “realita ego yangbenar-benar dialami oleh seorang secara mental dan fisik” pada waktu tertentu. Selanjutnya, dipostulasikan keadaan ego memperlihatkan seperangkat pengalaman-pengalaman internal yang khas, dan juga seperangkat perilaku-perilaku yang dapat diamati.
b. Transaksi
Karena keadaan ego merupakan struktur dasar kepribadian, manusia berinteraksi satu sama lain dari satu atau lebih keadaan ego tersebut. Berne membedakan tiga transaksi: timbale-balik atau komplementer, silang, dan tersembunyi.
c. Permainan drama segitiga
Didefinisikan sebagai suatuurutan transaksi tersembunyi yang berlangsung melalui tahap-tahap yang didefinisikan dengan baik hingga suatu dampak yang dapat diramalkan menyebutnya “memberikan hasil”.
d. Naskah
e. Gerakan dan Lakon Cerita
f. Posisi Kehidupan
g. Perintah dan keputusan ulang naskah

- Analisis transaksional dan penyembuhan
Bersamaan dengan keyakinan dalam ke-OK-an dasar klien, para terapis AT yakin akan suatu konsep penyembuhan bukan kemajuan atau kesadaran, tetapi bukan wawasan atau perubahan, tetapi penyembuhan. Berne menguraikannya sebagai berikut:
a. Pengendalian sosial
b. Penyembuhan gejala
c. Penyembuhan transferensi
d. Penyembuhan naskah
Baru-baru ini para terapis AT telah membagi penyembuhan kedalam penyembuhan sosial dan penyembuhan psikologis. Penyembuhan sosial menawarkan suatu model interaksional, yang menggunakan alat-alat untuk bekerja dalam berbagai bidang praktik:
a. Terapi pasangan
b. Terapi kelompok kecil- AT bekerja dengan bagus dalam kelompok karena terapi ini memungkinkan untuk mengidentifikasikan transaksi-transaksi pada saat itu
c. Terapi keluarga
d. Ruang kerja dan perkembangan organisasi

- Tahap-tahap Analisis Transaksional
1. Analisis Struktural
Sadar akan tahap ego yang menyususn dan menemukan fenomenologi kepribadian. Ketiga tahap ego ini antara lain orang tua, dewasa, anak. Tahap analisis transaksional cocok digunakan dalam pertemuan sosial yang disebut transaksional, yaitu pertemuan dua atau lebih individu. Orang pertama menciptakan stimulant transaksional, orang kedua menciptakan suatu respon transaksional.
2. Analisis Transaksional yang Pantas
3. Analisis Permainan
Tahap ini sebagai suatu seri pertumuhan transaksi pelengkap tersembunyi dan sebagai hasil yang dapat diprediksi.
4. Analisis Tulisan
Dibandingkan dengan tulisan-tulisn yang berhubungan dengan drama, tulisan dalam AT adalah mereka yang mengabdikan diri seluruhnya pada drama.
5. Kontrol Sosial
Pertumbuhan lewat setiap tahap analisis structural pasien akhirnya mencoba mencapai control sosial.

- Kelebihan Analisis Transaksional
Berne menunjukkan bahwa salah satu nilai lebih dari AT ialah bahwa terapi ini adalah psikiatri sosial dan psikologi individual. Terapi ini memberikan suatu perspektif yang unik tentang interaksi sosial dan fenomena sosial lain. Sering kali pelayanan bersifat tatap muka dengan penekanan umum pada permainan-permainan yang dimainkan di dalam ruang penanganan dan dengan memfokuskan pada transferensi dan konstransferensi perilaku-perilaku yang digerakkan dalam pelayanan naskah.


Sumber:
1. Roberts, Albert. R & Gilbert. J . Buku pintar pekerja sosial. BPK. Gunung Mulia
2. Naisaban, Ladlidaus. Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya. Grasindo

Rabu, 27 Maret 2013

Person Centered Therapyl by Anna Aulia

3. Person Centered Therapy

Terapi ini disebut juga client centered Therapy (terapi yang berpusat pada pasien) atau terapi non direktif. Terapi ini pada awalnya dipakai oleh Carl Rogers (1902-1987) pada tahun 1942. Sejak itu banyak prinsip rogers yang dipakai dalam terapi diterima secara luas. Tetapi teknik ini dipakai secara lebih terbatas pada terapi mahasiswa dan orang-orang dewasa muda lain yang engalami masalah-masalah penyesuaian diri yang sederhana. Carl rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungn dasar yang mendorong mereka ke aras pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan rogers, gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju aktualisasi-diri.
Pendekatan humanistik rogers teradap terapi- Person centered therapy- membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Focus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantu berhubungan dengan perasaan-perasaan nya yang lebih dalam dan bagian-bagian dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantullkan kembali atau menguraikan dengan kata-kata apa yang diungkapkan pasien tanpa member penilaian.

- Metode terapi person-centered
Rogers mengemukakan enam syarat dalam proses terapi person-centered yang harus dipenuhi oleh terapis. Rogers mengatakan pasien akan mengadakan respon jika (1) terapis menghargai tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri (2) terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk menggerakan dirinya kearah kematangan (kedewasaan) serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan-kekuatan ini dan bukan usahanya sendiri. (3) mencipakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang diinginkannya (4) membatasi tingkah laku tetai bukan sikap (misalnya pasien mungkin mengungkapkan keinginan nya untuk memperpanjang petemuan melampaui batas waktu yang telah disetujui, tetapi terapis tetap memperthankan jadwal semula) (5) terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi yang sedang diungkapkan pasien. (6) terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, membujuk, dan meyakinkan kembali.

- Definisi-definisi dan konsep-konsep lain yang penting dalam terapi person centered:
1. Self concept (konsep diri) mengenai konsepsi seseorang tentang dirinya.
2. Ideal self (diri ideal) mengenai self-concept yang ingin dimiliki seseorang (seseorang ingin menjadi apa)
3. Ketidakselarasan (incongruence) antara diri dan pengalaman yaitu suatu celah antara celf concept seseorang dan apa yang dialaminya.
4. Ketidakmampuan menyesuaikan diri secara psikologis (psychological malajdusment). Terjadi bila seseorang menyangkal atau mendistorsi pengalaman-pengalaman yang penting.
5. Keselarasan antara diri dan pengalaman
6. Kebutuhan akan penghargaan positif (need for positive regards)
7. Kebutuhan akan harga diri


- Contoh Proses terapi
Ketidakselarasan atau disosiasi merupakan suatu masalah yang terus menerus ditemukan oleh orang-orang yang mempelajari dinamika tingkah laku manusia. Contoh ketidaklarasan yang jelas adalah seorang siswa yang secara sadar ingin supaya berhasil di skolah tetapi ia terus menerus melakukan tingkah laku yang bertentenangan dengan usahanya untuk berhasil dan dia sendiri yakin bahwa dia gagal. Pada umumnya rogers menjawab maslah ini dengan berkata bahwa ada suatu ketidaklarasan atau kerekatan antara self-concept individu tersebut dan pengalaman organism nya karena cinta dari orang tua nya dan orang-orang lain yang berpengaruh dalam hidupnya dijadikan syarat untuk mengintroyeksikan gagasan-gagasan dan nilai-nilai tertentu seolah-oleh menjadi miliknya. Agasan dan nilai yang diinkorporasika dengan self concept nya sering kali tegar dan statis serta menghambat proses normal anak itu untuk menilai pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, anak tersebut mengembangkan dan berusaha mengaktualisasikan suatu self (diri) yang bertentangan atau tidak selaras dengan proses organismik yang berdasarkan tendensi aktualisasi.

- Kelebihan
1. Pendekatan ini menekankan bahwa konseli dpat menentukan keberhasilan atau kegagalan proses konseling.
2. Konseli diberi kebebasan untuk merubah dirinya sendiri
3. Pentingnya hubungan antar pribadi dalam proses konseling
4. Pentingnya konsep diri
5. Konselor berperan untuk mengarahkan dan menunjukan sikap pemahaman dan penerimaan

- Kelemahan
1. Terkadang konseli seolah-olah merasa tidak diarahkan dan merasa tidak adanya tujuan yang jelas dari proses konseling, apalagi jika tidak adanya pengarahan dan saran dari konselor
2. Pendekatan ini dianggap terlalu terikat pada lingkungan kebudayaan Amerika serikat, yag sangat menghargai kemandirian seseorang dan pengembangan potensi dalam kehidupan masyarakat.
3. Client-centered counseling yang beraliran ortodoks akan sulit diterapkan terhadap siswa dan mahasiswa dan jarang dilaksanakan dalam institusi pendidikan di Indonesia.

Referensi:
1. Semiun, Yustinus (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
2. Psikologi Konseling: Oleh Rizky Putri Asridha Sriemadingin, M.psi